Baru2 ini ketika aku sedang ngantri di bank, seseorang memanggil namaku. Aku langsung menoleh. Astaga. Si Anik! Anik adalah mantan PRT kesayanganku. Aku langsung berhai-haian, toh antrian masih panjang. Malahan seuai urusan bank, kami berdua lanjut ke cafe dekat situ ngobrol dan bertukar kabar.
Anik bekerja pada kami sejak anakku yg kecil umur 1 thn lebih. Tangannya ada sepuluh. Momong anak paten, masak mahir, beres2 rumah rapi jali. Kalau ia bete, ia keluar, ngobrol dengan siapa saja, nyiram bunga, apa saja.. Semuanya akan baik kembali, ia seperti lupa baru kumarahi, tidak merajuk. Kadang malah aku minder karena Dio-ku sepertinya lebih cinta ma kak Aniknya daripada ibunya yg kerja sampai mahgrib. Tapi kalo aku sudah illfeel gitu, dengan manisnya dia mendamaikan kami sehingga makin sayanglah aku pada Anik yg wonder woman ini.
Tamatnya dia dari dunia kami ketika ia jatuh hati pada tukang bangunan tetangga yang sering menggoda dia. Mau2nya meskipun si tukang sudah punya istri, Anik-ku menjadi istri kedua. Seribu satu ajaran sudah kuberikan pada Anik, ia tetap keukeuh. Wajah Anik tak cantik, ia pun sudah berumur, jadi begitu ada pria yang kelihatannya suka, ia langsung malabab, meskipun bukan ia satu2nya wanita dalam hidup suaminya.
Sekarang ia sudah berpisah dari suaminya (kaaaaaannn.. That I told u). Tapi Anik tak bodoh, ia minta bagian warung makan yang ia kelola sejak ia menikah, tetap menjadi miliknya. Sudah 2 tahun ia bercerai, tanpa anak, warungnya makin laris. Ketika kusodori foto Dio -anak asuhannya dulu- ia menangis. Dio yg dulu digendongnya kemana2, sekarang sudah tinggi besar...
Kalo dipikir2 udah banyak jg pengalamanku dengan asisten rumah tangga (ciiiehh..), sejak dari aku kecil sampai setuir ini.. Tapi dengan Anik aku belajar banyak. Terutama belajar bagaimana menjadi super mom dengan sepuluh tangan, ditambah tak bergaji, pakai sakit hati, tak bisa berhenti kerja dan punya hati seluas samudra.
Jadi ketika anakku nakal, gas abis dan stock dimana2 gak ada, mati lampu, dan seterusnya yg kadang datang serentak, aku ingat Anik. Bukan keluar rumah nyari2 tukang bangunan, tapi "keluar" dari masalah. Aku senyum2 di depan face book, ngisi batere hatiku.. Aku akan kembali cair, toh semuanya akan baik2 aja.. Seperti Anik, yg dengan tampang nya sederhana selalu bisa bikin Dio ku tenang...
Luv u, Nik.. From we all
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar