Pada saat menikah semua orang mengira dan berharap telah menemukan soulmate atau pasangan sejati atau tulang rusuk, whateverlah.. Menurutku (entah betul tidak loh), 80-90% pasangan menikah sebetulnya bukan pasangan yg betul-betul "panci dengan tutup". Mungkin 65-75% diantaranya adalah pasangan yg BERUSAHA mencocok-cocokkan diri dengan pasangannya. Kadang sampai mati.
Kalau pasangan tadi tidak berusaha, maka akhirnya mereka merasa menemukan fakta bahwa ternyata anda panci no 10, sedangkan aku tutup no 9. Jadi gak cocok. Padahal belum tentu seperti itu. Bisa saja panci tadi cocok dengan tutupnya. Tapi karena keseringan dipakai dan tidak ada maintenance, akhirnya jadi gak klop.
Salah satu masalah yg sering terjadi pada si panci dan tutup tadi adalah KOMUNIKASI.
Aku bersyukur diberkati Tuhan dengan suami pendiam. Dulu kayaknya cowok pendiam itu, cool, keren. Mana anaknya pintar, baik hati, alim pula. Tapi lama-lama, diamnya ini keterlampauan, karena tidak ada yg mengimbangi aku, si rame. Sepet deh.
Waktu mengeluh ke mama, malah diledekin,"Lah kalao dua-duanya rame, yg dengerin kamu sapa?".. Ya, iya sih.. Tapi dengan berjalannya waktu, masalahnya balik ke itu-itu lagi. Komunikasi. Gus suami yg bijak, pintar, berwawasan sangat luas, pandangan positif, selalu haus dengan ilmu baru, tapi peliiiit sekali bicara. Apalagi kalo gak ada duit :P
Pulang belanja, sambil menggebu2 aku "melapor" pandangan mata kayak reporter jalanan. Ia hanya menjawab'"Hmmm..hmmm..", matanya gak lepas2 dari laptop.
"Dengar gak, nih.." tanyaku.
"Iya, dengar.."
Aku semakin semangat cerita. Sekonyong2 terlintas rasa curiga. Hampir klimaks cerita, aku diam tiba2. Gus diam juga. 1 detik, 5 detik, 10, 15... Tuh kan? Bener dugaanku, Gus gak dengerin!!
"Katanya dengerin? Mana?" sungutku sebal.
"Kayak radio, gitu loh.. Kan penyiarnya cuap-cuap gak perlu disahut2in pendengarnya." sahutnya enteng. Bisa gak sih waktu balik lagi ke belakang? Aku ingin calon suamiku lulus uji: Bersediakah kamu mendengar kalau aku berbicara? Gak cuma dengar, tapi ikut komen2 juga..
Untung aja maintenance nya tokcer. Kalau gak, lupa deh semua janji waktu nikah dulu. Atau kebalik, karena ingat janji nikah, maka selalu diupayakan maintenancenya paten.
Kedua anakku kuliah di KOMUNIKASI. Yg besar di atmajaya, adiknya baru masuk USU. Kupikir bapaknya perlu juga kuliah bersama mereka. Aku sendiri yg memastikan Gus tidak bolos satu kali pun mata kuliahnya :)
Sabtu, Oktober 03, 2009
2300 untuk sahabat
Diposting oleh
Rumah Kiku
Dulu aku punya sahabat, sebut sajalah, X. Kami berteman sejak TK dan kian lengket hingga lebih 49 tahun. Tidak selalu mulus memang namun biasanya bisa diatasi. Banyak kenangan yg terjadi antara kami. Aku pernah menghadiahkan jaket (yg menurutku cuantiiik) ternyata kesempitan, kependekan dan tentu saja jelek bener jadinya. Uh, bikin malu. Karena cintanya dengan sang pacar tak disetujui ortu, mereka selalu bikin janji temu di rumahku. Kalau diingat2 sekarang, kok berani ya aku? Coba kalau bapak X tau, bisa digunduli kalee.. Kalau cerita minjem baju gak dibalik2in, sering. Dibalikin sih sebetulnya. Tapi karena abis mandi gak bawa baju, akhirnya baju tadi dipake lagi. Taktik gue sih.. Soalnya naksir betul bajunya. Aku selalu ingat ultahnya. Dia justru gak pernah. Apalagi setelah dia pindah ke lain kota dan pekerjaan barunya menyita banyak waktu dan perhatian. Banyak lagi kenangan2 konyol lainnya..
Walaupun jauh, kami masih kerap bercerita via telp rahasia besar-kecil bahkan hingga cerita2 gak penting. Kehidupannya yg "menaik" dan sukses butuh orang sepertiku untuk keseimbangan hidupnya. Orang2 diluar kehidupan sosialnya. Yg bisa ngomong sak enake wae. Yg bisa bikin dia ketawa ngakak dan curhat bahkan yg tak terpikirkan orang lain saat melihatnya sehari-hari. Dia perlu aku.
Tak lengkap rasanya kalau tak sampai kesedihanku di telinganya. Tak puas rasanya kalau aku tak mentraktirnya walaupun itu artinya semangkok es campur dunia iwan. Aku perlu dia, untuk keseimbangan hidupku.
Bulan Mei 2009 X menyampaikan berita yg menjadi masalah besar. Aku sangat terganggu, gusar, marah, kecewa, difitnah dan stres. Bukannya menyodorkan bahunya ketika aku menangis, ia malah memojokkanku. Mungkin maksudnya supaya aku bangkit melawan ketidakadilan, tapi aku tidak butuh kata-kata saat itu. Aku butuh seorang sahabat yg menangis bersamaku, seperti saat kami ngakak dulu. Bukan yg membahas aku dengan teman lain, justru di belakangku..
Ini bulan kelima aku tak berkomunikasi dengannya. Aku belum siap untuk dekat lagi, terutama karena masalah itu meninggalkan luka hati yg masih menganga. Marah, tidak, Maaf, sudah. Lupa, beloooon..
Malam ini tiba2 aku ingat X, sahabat yg kukenal cukup tangguh. Ia seolah selalu punya jawaban untuk setiap masalah. Aku selalu mendoakannya, untuk semua hal baik yang boleh terjadi dalam hidupnya. Samson juga perlu Tuhan toh?
Malam sudah larut, warnet mau tutup nih.. diujung bawah kulihat tagihan. 2300. Ok lah, selamat malam, X. Meskipun kita tak berhubungan, aku ingin kau tahu bahwa kita tetap bersahabat.
Miss u, X..
Walaupun jauh, kami masih kerap bercerita via telp rahasia besar-kecil bahkan hingga cerita2 gak penting. Kehidupannya yg "menaik" dan sukses butuh orang sepertiku untuk keseimbangan hidupnya. Orang2 diluar kehidupan sosialnya. Yg bisa ngomong sak enake wae. Yg bisa bikin dia ketawa ngakak dan curhat bahkan yg tak terpikirkan orang lain saat melihatnya sehari-hari. Dia perlu aku.
Tak lengkap rasanya kalau tak sampai kesedihanku di telinganya. Tak puas rasanya kalau aku tak mentraktirnya walaupun itu artinya semangkok es campur dunia iwan. Aku perlu dia, untuk keseimbangan hidupku.
Bulan Mei 2009 X menyampaikan berita yg menjadi masalah besar. Aku sangat terganggu, gusar, marah, kecewa, difitnah dan stres. Bukannya menyodorkan bahunya ketika aku menangis, ia malah memojokkanku. Mungkin maksudnya supaya aku bangkit melawan ketidakadilan, tapi aku tidak butuh kata-kata saat itu. Aku butuh seorang sahabat yg menangis bersamaku, seperti saat kami ngakak dulu. Bukan yg membahas aku dengan teman lain, justru di belakangku..
Ini bulan kelima aku tak berkomunikasi dengannya. Aku belum siap untuk dekat lagi, terutama karena masalah itu meninggalkan luka hati yg masih menganga. Marah, tidak, Maaf, sudah. Lupa, beloooon..
Malam ini tiba2 aku ingat X, sahabat yg kukenal cukup tangguh. Ia seolah selalu punya jawaban untuk setiap masalah. Aku selalu mendoakannya, untuk semua hal baik yang boleh terjadi dalam hidupnya. Samson juga perlu Tuhan toh?
Malam sudah larut, warnet mau tutup nih.. diujung bawah kulihat tagihan. 2300. Ok lah, selamat malam, X. Meskipun kita tak berhubungan, aku ingin kau tahu bahwa kita tetap bersahabat.
Miss u, X..
Langganan:
Postingan (Atom)