Sabtu, Oktober 03, 2009

2300 untuk sahabat


Dulu aku punya sahabat, sebut sajalah, X. Kami berteman sejak TK dan kian lengket hingga lebih 49 tahun. Tidak selalu mulus memang namun biasanya bisa diatasi. Banyak kenangan yg terjadi antara kami. Aku pernah menghadiahkan jaket (yg menurutku cuantiiik) ternyata kesempitan, kependekan dan tentu saja jelek bener jadinya. Uh, bikin malu. Karena cintanya dengan sang pacar tak disetujui ortu, mereka selalu bikin janji temu di rumahku. Kalau diingat2 sekarang, kok berani ya aku? Coba kalau bapak X tau, bisa digunduli kalee.. Kalau cerita minjem baju gak dibalik2in, sering. Dibalikin sih sebetulnya. Tapi karena abis mandi gak bawa baju, akhirnya baju tadi dipake lagi. Taktik gue sih.. Soalnya naksir betul bajunya. Aku selalu ingat ultahnya. Dia justru gak pernah. Apalagi setelah dia pindah ke lain kota dan pekerjaan barunya menyita banyak waktu dan perhatian. Banyak lagi kenangan2 konyol lainnya..

Walaupun jauh, kami masih kerap bercerita via telp rahasia besar-kecil bahkan hingga cerita2 gak penting. Kehidupannya yg "menaik" dan sukses butuh orang sepertiku untuk keseimbangan hidupnya. Orang2 diluar kehidupan sosialnya. Yg bisa ngomong sak enake wae. Yg bisa bikin dia ketawa ngakak dan curhat bahkan yg tak terpikirkan orang lain saat melihatnya sehari-hari. Dia perlu aku.

Tak lengkap rasanya kalau tak sampai kesedihanku di telinganya. Tak puas rasanya kalau aku tak mentraktirnya walaupun itu artinya semangkok es campur dunia iwan. Aku perlu dia, untuk keseimbangan hidupku.

Bulan Mei 2009 X menyampaikan berita yg menjadi masalah besar. Aku sangat terganggu, gusar, marah, kecewa, difitnah dan stres. Bukannya menyodorkan bahunya ketika aku menangis, ia malah memojokkanku. Mungkin maksudnya supaya aku bangkit melawan ketidakadilan, tapi aku tidak butuh kata-kata saat itu. Aku butuh seorang sahabat yg menangis bersamaku, seperti saat kami ngakak dulu. Bukan yg membahas aku dengan teman lain, justru di belakangku..

Ini bulan kelima aku tak berkomunikasi dengannya. Aku belum siap untuk dekat lagi, terutama karena masalah itu meninggalkan luka hati yg masih menganga. Marah, tidak, Maaf, sudah. Lupa, beloooon..

Malam ini tiba2 aku ingat X, sahabat yg kukenal cukup tangguh. Ia seolah selalu punya jawaban untuk setiap masalah. Aku selalu mendoakannya, untuk semua hal baik yang boleh terjadi dalam hidupnya. Samson juga perlu Tuhan toh?

Malam sudah larut, warnet mau tutup nih.. diujung bawah kulihat tagihan. 2300. Ok lah, selamat malam, X. Meskipun kita tak berhubungan, aku ingin kau tahu bahwa kita tetap bersahabat.

Miss u, X..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rumah Kiku Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP