Rabu, Agustus 05, 2009

Si Anik


Baru2 ini ketika aku sedang ngantri di bank, seseorang memanggil namaku. Aku langsung menoleh. Astaga. Si Anik! Anik adalah mantan PRT kesayanganku. Aku langsung berhai-haian, toh antrian masih panjang. Malahan seuai urusan bank, kami berdua lanjut ke cafe dekat situ ngobrol dan bertukar kabar.

Anik bekerja pada kami sejak anakku yg kecil umur 1 thn lebih. Tangannya ada sepuluh. Momong anak paten, masak mahir, beres2 rumah rapi jali. Kalau ia bete, ia keluar, ngobrol dengan siapa saja, nyiram bunga, apa saja.. Semuanya akan baik kembali, ia seperti lupa baru kumarahi, tidak merajuk. Kadang malah aku minder karena Dio-ku sepertinya lebih cinta ma kak Aniknya daripada ibunya yg kerja sampai mahgrib. Tapi kalo aku sudah illfeel gitu, dengan manisnya dia mendamaikan kami sehingga makin sayanglah aku pada Anik yg wonder woman ini.

Tamatnya dia dari dunia kami ketika ia jatuh hati pada tukang bangunan tetangga yang sering menggoda dia. Mau2nya meskipun si tukang sudah punya istri, Anik-ku menjadi istri kedua. Seribu satu ajaran sudah kuberikan pada Anik, ia tetap keukeuh. Wajah Anik tak cantik, ia pun sudah berumur, jadi begitu ada pria yang kelihatannya suka, ia langsung malabab, meskipun bukan ia satu2nya wanita dalam hidup suaminya.

Sekarang ia sudah berpisah dari suaminya (kaaaaaannn.. That I told u). Tapi Anik tak bodoh, ia minta bagian warung makan yang ia kelola sejak ia menikah, tetap menjadi miliknya. Sudah 2 tahun ia bercerai, tanpa anak, warungnya makin laris. Ketika kusodori foto Dio -anak asuhannya dulu- ia menangis. Dio yg dulu digendongnya kemana2, sekarang sudah tinggi besar...

Kalo dipikir2 udah banyak jg pengalamanku dengan asisten rumah tangga (ciiiehh..), sejak dari aku kecil sampai setuir ini.. Tapi dengan Anik aku belajar banyak. Terutama belajar bagaimana menjadi super mom dengan sepuluh tangan, ditambah tak bergaji, pakai sakit hati, tak bisa berhenti kerja dan punya hati seluas samudra.

Jadi ketika anakku nakal, gas abis dan stock dimana2 gak ada, mati lampu, dan seterusnya yg kadang datang serentak, aku ingat Anik. Bukan keluar rumah nyari2 tukang bangunan, tapi "keluar" dari masalah. Aku senyum2 di depan face book, ngisi batere hatiku.. Aku akan kembali cair, toh semuanya akan baik2 aja.. Seperti Anik, yg dengan tampang nya sederhana selalu bisa bikin Dio ku tenang...

Luv u, Nik.. From we all

Sabtu, Agustus 01, 2009

Puji Syukur Hanya BagiMU


Pengalaman membesarkan anak tak dapat diganti dengan apapun juga. Setiap detik dalam kehidupan mereka di dalam rahim kita adalah doa. Setiap kali memandang mata jernih mereka ketika tertawa, menangis bahkan sedang merajuk, adalah doa. Tapi ketika anakku yg kedua, hendak masuk ke Perguruan Tinggi, tanpa sadar aku berhenti berdoa. Karena krisis keuangan, semua bimbel ditiadakan. Try out yg memerlukan biaya, gak dulu deeeh.. Beli buku pintar, mending minjam ajalaaah.. Atau copy. Pokoknya kalau cerita buka dompet (yg isinya gak penting),mmmmhhh... gak aja yaaa..

Ketika anak kelas 3 lainnya sibuk bimbel, Cynthia-ku sibuk nge-job. Ketika yg lain sibuk belajar, anakku tidur kecapekan. Ketika anak lain sibuk nentuin pilihan, Cyn cuma milih 1 (ada pilihan lain, sengaja pilih FK UI biar gak masuk, karena kalau masukpun gak kan diambil. Banyak pertimbangan..)

Sehari sebelum pengumuman, aku mengucapkan kaul, tanpa pikir panjang, dengan iman (yg entah kupetik darimana). Hatiku tenang, yakin Tuhan kasih yang terbaik. Dan aku baru sadar, aku sudah lama tak berdoa. Tapi waktu itu aku juga belum mau berdoa, takut ntar Tuhan nggodain aku :"Tuh, kalau perlu baru ingat.."

Jadi waktu akhirnya pengumuman tiba, dan Cynthia-ku masuk UMB Ilkom di Fisipol USU, kontan airmata ngalir gak brenti2. Gila bok, ketika aku menjauhpun, Ia selalu ada. Gak lagi deh, Tuhan, Gak lagi deh.. Kecintaan dan kesetiaanNya pada ku, pada Cynthia, gak pake syarat apa2..

Cinta apa lagi yg lebih dari cinta seperti itu?

kondom? Alamak..


Suatu siang yg puanas (jarang2 Medan sejuk) aku dan anak gadisku -Cynthia- jalan ke pajus (pajak USU). Niatnya mw beli ATK buat adiknya sekalian liat2 apa yg bisa diliat. Ketika aku sibuk memilih cover buku (anakku yg kecil laki, so pasti gak suka yg bergambar hello kitty apalah), tiba-tiba Cyn menghampiri. Dibisikkannya ke telingaku: "Mah, aku lg seneng nih. Baru beli kondom.."

Kalo bisa pingsan, rasanya pengen pingsan aku denger permintaan anakku. Betul2 gak siap! Bayangkan... gadisku yg baru semalam kumarahi karena malas cuci piring, tiba2 minta kondom? Dia yg baru minggu lalu ngelendot pada papanya sebagai bagian dari taktik merayu ngantar-jemput dia ke rumah kawan yg nun jauh disana, tau2 dengan antengnya minta kondom? Emangnya kondom itu se'ringan' :"mah, aku beli permen" atau "mah, aku pergi sebentar ke warung ya". Apapun itu..

Gak bisa kebayang kalo aku seusianya dulu bilang ke mama : "Ma, aku mau beli kondom". Kurasa mama bakal pingsan sebelum kalimat "...dom" itu kuselesaikan. Mama emang msh tradisionil, maklum produk jadul. Tapi lha, aku yg ngaku modern aja shock berat gn..Gak terima guaaaa..

Sadar pandangan 'pengen nabok' dari mataku, anakku ngulurkan handphonenya yg lama, yg sudah dibalut dengan karet warna ungu. Untunglah otakku yg belum berkarat ini langsung nalar, bahwa "kondom" yg dimaksud adalah pembungkus handphone yg terbuat dari karet warna-warni.

Dengan tampang gak mau kalah (padahal malu juga, gak gaul, gak tau yg namanya kondom bukan yang cuma dipake di kamar), aku mengerucutkan mulut: "Masa' ungu sih? Kayak warna banci, gituuu.."

"Ma.."anakku natap aku dengan tenang, seolah mau ngajar anak kecil mengeja,"Warna ungu itu warna janda, ma.. Bukan banci. Lagian ungu cantik kok.."
Tau kan mukaku kayak apa, baru tau ungu itu warna janda..

Ya deh, selamat pakai kondom baru..
 

Rumah Kiku Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP