Pengalaman membesarkan anak tak dapat diganti dengan apapun juga. Setiap detik dalam kehidupan mereka di dalam rahim kita adalah doa. Setiap kali memandang mata jernih mereka ketika tertawa, menangis bahkan sedang merajuk, adalah doa. Tapi ketika anakku yg kedua, hendak masuk ke Perguruan Tinggi, tanpa sadar aku berhenti berdoa. Karena krisis keuangan, semua bimbel ditiadakan. Try out yg memerlukan biaya, gak dulu deeeh.. Beli buku pintar, mending minjam ajalaaah.. Atau copy. Pokoknya kalau cerita buka dompet (yg isinya gak penting),mmmmhhh... gak aja yaaa..
Ketika anak kelas 3 lainnya sibuk bimbel, Cynthia-ku sibuk nge-job. Ketika yg lain sibuk belajar, anakku tidur kecapekan. Ketika anak lain sibuk nentuin pilihan, Cyn cuma milih 1 (ada pilihan lain, sengaja pilih FK UI biar gak masuk, karena kalau masukpun gak kan diambil. Banyak pertimbangan..)
Sehari sebelum pengumuman, aku mengucapkan kaul, tanpa pikir panjang, dengan iman (yg entah kupetik darimana). Hatiku tenang, yakin Tuhan kasih yang terbaik. Dan aku baru sadar, aku sudah lama tak berdoa. Tapi waktu itu aku juga belum mau berdoa, takut ntar Tuhan nggodain aku :"Tuh, kalau perlu baru ingat.."
Jadi waktu akhirnya pengumuman tiba, dan Cynthia-ku masuk UMB Ilkom di Fisipol USU, kontan airmata ngalir gak brenti2. Gila bok, ketika aku menjauhpun, Ia selalu ada. Gak lagi deh, Tuhan, Gak lagi deh.. Kecintaan dan kesetiaanNya pada ku, pada Cynthia, gak pake syarat apa2..
Cinta apa lagi yg lebih dari cinta seperti itu?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar